digitalisasi wakaf milenial

Diperkirakan penduduk Indonesia lebih dari 50% merupakan generasi milenial atau generasi dengan usia produktif 17-37 tahun. Sehingga disebut sebagai generasi yang punya potensi besar untuk menggerakkan perekonomian Indonesia. Milenial dituntut untuk bisa produktif dan bermanfaat salah satunya dengan cara wakaf.

Dalam Islam, berwakaf merupakan suatu ibadah dengan memberikan kebajikan dengan janji pahala yang akan terus mengalir dan abadi bagi yang memberikannya. Selain itu, harta tersebut akan dapat dimanfaatkan selamanya oleh masyarakat yang sifatnya abadi sebab tidak akan berkurang nilai nominalnya.

Potensi aset wakaf ini juga tidak main-main. Secara keseluruhan menurut data dari Badan Wakaf Indonesia (BWI), potensi wakaf tunai di Indonesia disebut mencapai Rp 180 triliun per tahunnya. Nilai realisasinya di tahun 2017 masih sebesar Rp 400 miliar. Sedangkan potensi perolehan dari generasi milenial ini nilainya bisa mencapai Rp 1,35 triliun per tahun.

badan wakaf indonesia
Badan wakaf indonesia

Bayangkan jika angka ini dipergunakan untuk menggerakkan perekonomian, tentu saja dapat menurunkan tingkat kemiskinan di Indonesia. Data ini menegaskan bahwa generasi Y ini merupakan generasi yang peduli terhadap sesama. Potensi inilah yang harus terus dikembangkan hingga angka tersebut bisa benar-benar terealisasi.

Harta yang berasal dari kedermawanan ini bisa dipergunakan untuk berbagai hal untuk membangun aset wakaf yang akan bermanfaat bagi masyarakat, tidak hanya bagi generasi sekarang, tetapi juga generasi selanjutnya. Lagipula, semua aset yang sudah dibangun untuk berbagai keperluan sosial, sehingga akan menjadi lebih produktif. Seperti misalnya pembangunan sekolah, membangun rumah ibadah, dan bangunan rumah sakit, atau bidang lainnya.

Badan Wakaf Indonesia (BWI) juga terus berkomitmen untuk mengoptimalkan potensi wakaf sehingga kontribusi pada perekonomian juga tinggi. BWI juga menyebut isu strategis memperbesar potensi wakaf adalah dengan memperbanyak wakif (orang yang memberikan hartanya untuk diwakafkan).

Upaya untuk memperbanyak wakif ini tentu saja dengan menggaet seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya sebatas pada orang tua saja, tetapi generasi milenial juga menjadi sasaran.

Selain memperbanyak wakif, mengembangkan potensi wakaf juga dengan mengangkat isu strategis kedua yaitu pengelolaan harta wakaf itu sendiri. Sebab, pola pikir masyarakat sekarang masih perlu dibenahi. Banyak yang beranggapan bahwa aset yang bisa diwakafkan hanyalah berupa tanah saja. Sekarang harta yang bisa diberikan semakin luas, mulai dari tanah, bangunan, royalti, dan apa saja yang bisa diberikan asalkan memiliki nilai ekonomis dan memenuhi unsur harta wakaf.

Jika menyasar generasi milenial, tentu harus disesuaikan dengan kebiasaan generasi ini yang akrab dengan dunia digital. Oleh karena itu Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) mendorong digitalisasi pembayaran wakaf agar menyasar generasi milenial.

Kemudahan membayar wakaf dengan cara digital ini tentu diharap bisa menambah jumlah wakif dari generasi langgas yang ikut berkontribusi. Wakaf dengan cara ini akan lebih mudah dan membuat anak muda jauh lebih tertarik untuk ikut berpartisipasi memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

Digitalisasi dalam hal memberikan harta ini tidak hanya memberi kemudahan bagi wakif untuk memberikan hartanya, tetapi juga bisa lebih transparan dari segi pengelolaannya. Sehingga para wakif percaya untuk memberikan hartanya.

Bahkan belakangan banyak sekali cara untuk wakaf, karena bisa dilakukan dengan asuransi jiwa syariah juga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here